Dulu aku sering dengar kalimat itu dari ibu waktu aku masih kecil. Setiap musim kemarau, beliau rajin menjemur kasur, bantal, dan selimut di halaman. Katanya, "Biar panas matahari masuk, nanti kamar jadi adem, listrik buat kipas bisa diirit." Aku percaya saja waktu itu. Namanya juga anak kecil, apa kata ibu ya sudah.
Tapi setelah aku berumah tangga sendiri di kampung, tinggal di rumah peninggalan orang tua dengan atap seng dan kipas angin tua, aku mulai sadar ada yang aneh. Kasur sudah dijemur tiap minggu, tapi tagihan listrik tetap saja naik. Kipas tetap nyala seharian. Malah kadang lebih boros dari bulan sebelumnya.
Dari situ aku mulai ngecek satu per satu kebiasaan yang selama ini aku anggap "hemat". Ternyata beberapa di antaranya cuma mitos yang diwariskan turun-temurun tanpa pernah dibuktikan. Ini ceritaku.
Baca juga: Kenapa Pensiunan Justru Lebih Hemat Listrik Setelah Tahu Ini
Mitos Pertama: Nyalakan-Kan Matikan Lampu Lebih Hemat dari Biarkan Menyala
Ini yang paling sering aku dengar dari tetangga. Katanya, kalau cuma keluar kamar sebentar, matikan lampu. Kalau nggak, katanya "buang-buang listrik". Aku dulu nurut banget sama nasihat ini. Sampai suatu hari kakak iparku yang kerja di toko elektronik ketawa dengar kebiasaan kami.
Katanya, untuk lampu LED zaman sekarang, nyala-mati terlalu sering justru bikin komponen di dalamnya cepat rusak. Bukan soal listriknya, tapi soal umur lampunya. Aku sudah ganti tiga lampu LED dalam setahun gara-gara kebiasaan ini. Padahal kalau dibiarkan nyala satu-dua jam, listriknya nggak seberapa, tapi lampunya awet bertahun-tahun.
Hemat itu bukan soal seberapa sering kamu matikan, tapi seberapa bijak kamu pakai.
Sejak itu aku ubah kebiasaan. Kalau cuma keluar kamar 5 menit, biarkan nyala. Kalau mau pergi lama, baru matikan. Hasilnya? Pengeluaran buat beli lampu baru turun drastis. Ini yang namanya hemat barang sekaligus hemat uang.
Mitos Kedua: Kulkas Harus Selalu Penuh Biar Hemat Listrik
Nah, ini yang paling bikin aku geleng-geleng kepala sendiri. Dulu aku percaya kalau kulkas penuh itu lebih hemat listrik, karena "udaranya nggak banyak, jadi kompresor nggak kerja keras". Logikanya kedengaran masuk akal, kan? Ternyata kebalik.
Kulkas yang terlalu penuh sesak malah bikin sirkulasi udara dingin nggak merata. Kompresor jadi kerja lebih keras buat mendinginkan seluruh isi. Belum lagi kalau barangnya ditumpuk sampai nutup lubang angin di belakang. Aku pernah isi kulkas sampai penuh karena habis panen sayur, eh tagihan listrik bulan itu naik hampir 20 persen.
Yang benar itu: isi kulkas sekitar 60-70 persen saja. Sisakan ruang buat udara dingin berputar. Dan yang paling penting, jangan taruh kulkas di dekat kompor atau kena sinar matahari langsung. Di rumahku dulu kulkas ada di dekat jendela yang kena panas sore. Setelah aku pindah ke sudut yang lebih teduh, tagihan listrik langsung terasa bedanya.
Bonus: Debu di Belakang Kulkas
Ini yang sering dilupakan. Bagian belakang kulkas itu ada kisi-kisi pendingin. Kalau berdebu, panas nggak bisa keluar, kompresor kerja ekstra. Aku sekarang rutin bersihin pakai kuas bekas setiap dua minggu. Simpel, tapi efeknya nyata. Nggak perlu beli alat mahal, cukup kuas cat yang sudah nggak dipakai.
Mitos Ketiga: Mesin Cuci Cuma Boleh Dipakai Kalau Cucian Setumpuk
Ini nasihat yang aku terima dari ibu mertua. Katanya, "Sayang listriknya kalau nyuci cuma sedikit. Tumpuk dulu sampai penuh." Aku ikuti nasihat ini selama hampir setahun. Tapi ada masalah yang nggak beliau sebut: cucian menumpuk lama di keranjang bikin bau apek dan jamur.
Ujung-ujungnya aku harus nyuci dua kali, atau pakai deterjen lebih banyak buat hilangin baunya. Malah jadi boros deterjen dan air. Belum lagi kalau ada baju putih yang kena noda kuning karena kelamaan numpuk.
Yang lebih masuk akal: sesuaikan level air dan waktu cuci dengan jumlah pakaian. Mesin cuci zaman sekarang punya pengaturan itu. Kalau cucian sedikit, pakai setting air rendah. Nggak perlu nunggu setumpuk, nggak perlu juga nyuci satu kaos sendirian. Yang penting bijak atur settingnya, bukan asal tumpuk atau asal nyala.
Mitos Keempat: AC dan Kipas Cukup Dimatikan Saat Keluar Rumah
Ini agak lucu. Banyak yang berpikir hemat energi itu cukup dengan mematikan alat saat nggak dipakai. Padahal perawatan barangnya sendiri sering diabaikan. Kipas angin yang berdebu, AC yang filternya kotor, itu semua bikin alat kerja lebih berat dan makan listrik lebih banyak.
Aku pernah punya kipas angin yang berputar makin pelan padahal settingnya paling kencang. Setelah dibongkar, ternyata baling-balingnya penuh debu tebal. Setelah dibersihkan, putarannya kembali normal, dan yang lebih penting, suaranya jadi lebih halus. Nggak perlu teknisi, cukup obeng dan sedikit kesabaran.
Untuk AC, filter yang kotor bikin udara dingin susah keluar. Kompresor jadi kerja nonstop. Cukup cuci filter sebulan sekali pakai air keran, keringkan, pasang lagi. Ini perawatan paling murah yang pernah aku lakukan, dan efeknya ke tagihan listrik lumayan terasa.
Yang Akhirnya Aku Sadari
Setelah setahun tinggal di rumah sendiri, aku sadar satu hal: hemat energi itu bukan soal ikut-ikutan mitos yang beredar di kampung. Bukan juga soal pelit matikan ini-itu. Hemat energi itu soal kenal barang-barang di rumah sendiri. Tahu cara kerjanya, tahu kapan harus dirawat, tahu batas pemakaian yang wajar.
Mitos-mitos tadi sebenarnya lahir dari niat baik orang tua kita yang hidup di zaman alat elektronik masih sederhana. Tapi zaman berubah, teknologinya berubah, dan cara hematnya juga harus ikut berubah. Nggak ada salahnya mendengar nasihat orang tua, tapi kita tetap perlu cek sendiri apakah masih relevan.
Kalau kamu tinggal di kampung atau kota kecil seperti aku, mungkin rasanya tagihan listrik nggak sebesar di kota besar. Tapi bukan berarti kita nggak bisa lebih bijak. Mulai dari hal kecil: bersihkan kulkas, cuci filter AC, atur setting mesin cuci, dan berhenti percaya mitos yang nggak pernah dibuktikan. Lama-lama, kamu sendiri yang akan merasakan bedanya di dompet dan di awetnya barang-barang rumah.
Dan soal kasur yang dijemur ibu tadi? Ternyata itu tetap bagus, kok. Bukan buat hemat listrik, tapi buat membunuh tungau dan bikin tidur lebih nyaman. Jadi mitosnya salah alasan, tapi kebiasaannya tetap bermanfaat. Kadang memang begitu, ya. Warisan orang tua nggak selalu salah, cuma kadang penjelasannya perlu diperbarui.